Anda ingat film ChiPs yang ditayangkan TVRI sekitar tahun 1978-1983? Atau anda belum lahir?
Film ChiPs menceritakan tentang officer Poncherello dan John Baker, polisi patroli jalan raya yang bertugas mengawasi lingkungan, dan menangkap penjahat. Kalau ada penjahat berupaya melarikan diri menggunakan mobil, lalu officer Ponch and John beraksi mengejar penjahat, maka anak-anak bertepuk tangan.
Film heroik yang ditayangkan setiap minggu selama lima tahun ini membuat anak-anak Indonesisa bilang: Kalau besar, aku ingin jadi polisi! Anak-anak saat itu, kalau dipakaikan baju polisi, badannya mendadak tegak, wajahnya berseri-seri, merasa jadi polisi hebat yang menangkap penjahat. “Aku officer Ponch! Kamu jadi officer John!”. Anak-anak berebut memerankan Polisi heroik itu. Polisi jadi pahlawan anak-anak Indonesia.
Masa kanak-kanak, adalah masa yang menentukan bagaimana hidup anak itu selanjutnya. Jika terus menerus diperlihatkan heroisme polisi, membuat anak-anak ingin jadi polisi yang hebat, sehingga belajar yang rajin dan makan yang banyak.
Saat ini kita mengalami krisis kepercayaan terhadap kepolisian kita. Polisi yang memalak turis yang baru-baru ini heboh di youtube akan dipecat. Namun, turis yang memberi uang disebut-sebut akan dikenakan pasal suap. Apakah menyuap sama dengan dipalak? Namanya juga yang punya hukum. Mau diplintir ke kiri, mau diplintir ke kanan, suka-suka saja.
Bagaimana kita menjawab pertanyaan anak-anak, mengapa polisi korup cengengesan saat ditangkap KPK? Anak-anak kehilangan pahlawan di negeri ini. Polisi korupsi. Ketua partai korupsi. Apakah anak-anak masih ingin jadi polisi?
“Kalau besar nanti, aku mau jadi Power Ranger!”
- Esther Wijayanti –

Tidak ada komentar:
Posting Komentar