Senin, 23 Februari 2015

Beginilah Keadaan Pengungsi Rohingnya di Medan

Kabar bentrok pengungsi Rohingnya vs nelayan Myanmar di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Medan sungguh menyedihkan. Bentrok ini dipicu oleh pengaduan tiga wanita Rohingnya yang merasa dilecehkan oleh para nelayan Myanmar. Ditengahi oleh seorang rohaniwan Rohingnya bernama Uztad Ali, namun berujung pada bentrok fisik. Akhirnya 8 ABK Myanmar tewas. 15 warga Rohingnya luka berat.

Menjadi perhatian saya, mengapa ada banyak warga Rohingnya di Rudenim? Kenapa tidak ada yang menolong? Mana yang kemarin teriak-teriak demo solidaritas Rohingnya? Mana yang kemarin menimpuki klenteng karena rasa solidaritas Rohingnya? Saat warga Rohingnya ada di Indonesia, mereka tidak memberikan pertolongan berarti kepada pengungsi Rohingnya. Jadi, yang penting marah-marah karena saudaranya dianiaya disana. Perkara menolong, nanti dulu. Pikir-pikir dahulu.

Jika kita bicara Rudenim, hati terasa miris. Kadang air mata berlinang jika membayangkan orang-orang ini. Masih lebih baik tinggal di rumah reot daripada tinggal di Rudenim. Ini adalah tempat penampungan manusia dengan kondisi tidak manusiawi yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Imigrasi. Mau manusiawi bagaimana, anggaran untuk memberi tempat yang layak untuk mereka tidak ada – mungkin ada namun tiada. Masih untung negara memberi makan mereka.

Rudenim Medan, berkapasitas 50 orang, namun diisi oleh 480 orang. 262 di antaranya berasal dari Myanmar.

136517293259422718
Sumber: medan.radiosmartfm.com

1365172993644980165
Sumber: m.tribunews.com

Pria, wanita, anak-anak tumplek di tempat seperti itu. Dibatasi oleh jeruji besi. Karena mereka memasuki wilayah Indonesia secara ilegal, bahkan tidak memiliki surat-surat. Tidak ada passport, tidak ada visa, tidak ada kartu pengenal. Mau dipulangkan ke negaranya, tidak mau. Sekalipun mau, siapa yang mau membayar tiketnya? Sekalipun ada yang membayari tiketnya, mana passportnya? Sekalipun orang dewasa ada passportnya, bagaimana dengan anak-anaknya? Mana bisa orang tua dipulangkan ke negaranya, namun anaknya ditinggal. Sungguh ironis.

Rudenim bukan tempat transit sehari dua hari. Tidak jarang orang yang mendekam di Rudenim baru bisa keluar setelah lewat satu tahun. Anak-anak yang berada di situ berbulan bulan mengalami gangguan psikologis.

Bisakah anda menolong mereka selain teriak-teriak menyuruh orang lain menolong, tapi anda sendiri tidak tahu cara mengulurkan tangan?

Saya prihatin pada mereka yang jauh-jauh sampai di Indonesia dengan harapan ditolong warga Indonesia yang tempo hari berapi-api meneriakkan solidaritas. Namun sampai di Indonesia, para juru selamat ini menghilang.


- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar