Heboh-heboh di youtube karena diuploadnya video polisi memalak bule di Bali, yang uangnya digunakan untuk membeli bir, membuat hati miris. Kenapa Polisi kita sedemikian memalukannya di dunia internasional?
Cara kerja polisi yang saya lihat di Indonesia sangat jauh berbeda dengan yang saya lihat di Belanda.
Pemandangan yang menarik bagi saya saat melihat seorang pengendara motor mengalami kecelakaan dekat terminal bis di Den Haag, tersenggol mobil. Terlihat pengendara motor duduk di trotoar, berbicara dengan seorang polisi. Tidak ada luka. Tidak terlihat kesakitan. Sementara mobil yang menabrak berada tidak jauh dari situ. Dua mobil polisi berada di dekat motor dan empat orang polisi berdiri di lokasi. Sementara itu, sirine ambulans terdengar memekakkan telinga. Tidak ada warga yang merubung, karena lokasinya memang bukan area pejalan kaki. Satu korban kecelakaan lalu lintas ditangani empat polisi.
Seorang kerabat juga menceritakan pengalamannya mengalami kecelakaan di luar kota. Selain polisi datang menolong, ambulans datang, akhirnya kerabat saya diangkut menggunakan helikopter. Padahal tidak ada patah tulang. Dirawat di rumah sakit dua hari saja, lalu boleh pulang. Setelah pulang, masih disediakan psikolog untuk memulihkan trauma pasca kecelakaan.
Sementara, di pusat kota Amsterdam, polisi banyak berpatroli di jalan. Ada yang menggunakan sepeda, ada yang jalan-jalan atau berdiri-berdiri saja, ada juga yang duduk di motor dengan posisi siap menyalakan motor. Area itu memang sangat ramai. Duduk berlama-lama di tempat itu membuat kepala sedikit pusing, karena sebentar- sebentar menghirup asap ganja dari orang-orang yang lalu lalang. Banyak warga Turki dan Maroko di sini. Empat orang polisi berdiri tidak jauh dari saya duduk. Tiba-tiba ada orang menemui mereka melapor kecopetan. Polisi-polisi itu mendadak lari-lari. Tak lama kemudian dua polisi melewati saya ngebut naik sepeda. Lalu mobil polisi datang. Masyarakat di sekitar situ tidak perduli, seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya polisi-polisi itu saja yang heboh. Buat saya, seolah melihat polisi yang kurang kerjaan. Satu kasus ditangani ramai-ramai.
Pemandangan yang berbeda dengan polisi Indonesia. Mereka tidak terlihat berpatroli di jalan. Adapun yang di jalan sibuk bernegosiasi dengan pengendara motor dan mobil. Kalau ada copet, polisi baru datang setelah copetnya babak belur digebuki warga.
Seorang rekan polisi mengatakan kepada saya, bahwa mereka harus mencari sendiri biaya untuk patroli. Sementara polisi yang lain mengatakan, untuk melakukan penyidikan sebuah kasus, polisi harus mendanai dengan uang pribadinya. Termasuk biaya mondar mandir, beli printer, dan tintanya dengan uang sendiri. Tidak jarang komputer penyidik di kantor polisi mau tidak mau dibeli dengan uang sendiri. Jika kasus selesai, baru bisa diganti oleh institusinya. Dari sudut pandang bisnis, POLRI seolah ngebon dulu pada polisi-polisi di level bawah agar institusi tersebut dapat menjalankan fungsinya. Kalau sudah selesai, baru dibayar menggunakan APBN tahun berikutnya. Jika kasus tidak diterima kejaksaan, maka segala biaya tidak bisa di-reimburse. Itulah sebabnya, jika kita melaporkan suatu kasus pada polisi, kita harus membiayai polisi untuk melakukan penyidikan, karena gaji polisinya kecil, kasusnya banyak, dan dia tidak punya “modal usaha” untuk menyelesaikan kasus tersebut. Kecuali untuk kasus-kasus khusus yang diinstruksikan untuk dilakukan penyidikan, biaya disediakan. Entah siapa yang menyediakan, mungkin atasan.
Jadi, saya tidak heran melihat aksi polisi di youtube yang saat ini ditonton jutaan orang di dunia. Badannya kurus seperti kurang makan. Dan harus minta orang agar bisa beli bir. Kasihan sekali Polisi pangkat rendah Republik Indonesia.
Kalau di Amerika polisi bilang: “You have the right to remain silent. Anything you say can and will be used against you in a court of law. You have the right to speak to an attorney, and to have an attorney present during any questioning. If you cannot afford a lawyer, one will be provided for you at government expense..”
Kalau di Indonesia polisi bilang: “Wani piro?”
- Esther Wijayanti –
Tidak ada komentar:
Posting Komentar