Senin, 23 Februari 2015

Gundala Putera Petir Tidak Ada Nak, Adanya Aceng Fikri


Bapak saya orang yang hebat buat saya. Waktu saya kecil, saya senang sekali duduk berlama-lama mendengarnya bercerita. Cerita tentang bagaimana caranya mengebor minyak bumi. Cerita tentang bagaimana caranya mengebor minyak bumi jika di atas permukaannya ada pemukiman penduduk yang tidak bisa dipindahkan. Cerita tentang daerah-daerah yang mengandung gas alam. Cerita tentang cara mengendalikan gunung berapi. Cerita tentang bagaimana sinyal ditransmisikan melalui kabel fiber optik. Cerita tentang instalasi kabel laut. Cerita tentang cara kerja satelit. Cerita tentang komputer. Cerita tentang power supply. Cerita tentang cara kerja sentral telepon. Cerita tentang cara membuat terowongan bawah tanah. Bukan cerita anak-anak. Tapi saya senang sekali mendengarnya dan melihat-lihat gambar-gambar mesin-mesin penunjang yang diceritakan bapak saya.

13640555741179224246

Bapak membelikan saya sebuah lampu fiber optik. Dan menerangkan bahwa sinyal suara dan data ditransmisikan seperti mentransmisikan cahaya melalui fiber optik ini. Bapak juga mengajak saya mengenal Menteri Pertambangan dan Energi saat itu. Kalau kami berpapasan di dekat rumahnya, pak Menteri melambaikan tangannya pada kami. Bapak mengatakan, bahwa bapak Menteri, adalah sekjen OPEC. Wah, saya bangga sekali sama pak Menteri. Saya bangga sekali Indonesia jadi anggota OPEC. Oleh karenanya, saya sangat kecewa saat Indonesia tidak lagi menjadi anggota OPEC. Karena, menjadi anggota OPEC, adalah kebanggaan masa kecil saya.

Masih banyak lagi hal hal yang diceritakan oleh bapak saya yang membuat saya ingin jadi orang hebat kalau besar nanti. Saya ingin jadi orang pintar seperti pak Menteri Pertambangan dan Energi. Saya ingin jadi seperti ibu Pratiwi Sudarmono, sekalipun beliau tidak jadi ke bulan, ibu Pratiwi membuat saya ingin jadi astronot kalau besar nanti. Saya juga ingin jadi ahli pertanian seperti orang-orang IPB. Bayangkan, saat itu IPB sudah sangat hebat, negara-negara tetangga datang ke IPB untuk belajar pertanian. Bagaimana 10, 20, 40 tahun lagi, seluruh dunia pasti belajar pertanian ke IPB.

Waktu kecil, saya bercita-cita ingin jadi Menteri Pertambangan dan Energi, ingin jadi ahli Telekomunikasi, ingin jadi Astronot, ingin jadi Ahli Pertanian, dan ingin jadi Gundala Putera Petir.

Cita-cita yang segudang ini, memacu saya untuk rajin belajar. Agar kalau besar nanti, cita-cita saya tercapai.

Jika satu anak memiliki cita-cita besar dan rajin belajar untuk mencapai cita-citanya, maka masa depan yang baik ada di hadapannya.

Jika semua anak Indonesia memiliki cita-cita besar dan rajin belajar untuk mencapai cita-citanya, maka masa depan bangsa Indonesia yang baik ada di hadapan kita, yang berdampak pada anak cucu kita.

Anak-anak, memerlukan tokoh yang bisa dilihat, dikagumi, dan dijadikan contoh. Agar kalau besar nanti, bisa seperti tokoh hebat yang diidolakannya. Dengan demikian, anak-anak akan rajin belajar.

Bagaimana dengan anak-anak bangsa saat ini?

Kita tidak punya tokoh yang bisa jadi panutan anak-anak. Anak-anak punya menteri yang korupsi. Anak-anak punya anggota dewan yang ke Eropa ngurusi santet. Anak-anak punya Bupati yang tukang kawin. Anak-anak punya Ketua Partai yang masuk penjara. Anak-anak punya guru yang ditangkap polisi karena mencabuli murid. Anak-anak punya ayah yang jarang di rumah, karena istrinya banyak.

Bahkan, Gundala Putera Petir pun sudah tidak ada. Pahlawan fiksi nusantara sudah tidak ada.

Anak-anak Indonesia, mau jadi apa kalau besar nanti? Jadi residivis korupsi? jadi tukang tipu-tipu rancangan undang-undang? Jadi tukang bongkar rumah ibadah? Jadi tukang minta uang tilang di jalanan? Jadi tukang kawin? Atau jadi Spongebob Squarepant?


Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar