Selasa, 24 Februari 2015

Surat untuk Saudaraku Jemaah Ahmadiyah

Seorang dengan nada marah berkata pada saya, “Saya heran sama atheis, sudah dikasih hidup dan rejeki kok masih juga tidak mau mengakui keberadaan Tuhan”.

Tanggapan saya sederhana saja. “Artinya Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia memberi hidup dan rejeki bahkan bagi orang-orang yang tidak mengakui keberadaanNya. Anda yang mengaku orang beriman kok marah-marah sama atheis. Emang anda ini siapa?”

Seperti biasa, jawaban saya dapat respon: “Kafir dilarang jawab!”

Saat ini saya prihatin dengan nasib jemaah Ahmadiyah yang masjidnya disegel di Bekasi. Masjid dipagari seng, dengan 27 orang dikurung di dalamnya. Kabar terakhir adalah, dilarangnya orang memberi makanan kepada jemaah yang dikurung di dalam masjid itu.

Bekasi memang paling top dalam urusan segel menyegel, tutup menutup dan bongkar membongkar rumah ibadah non Sunni. Saya bersyukur tidak terdengar ada warga Syiah di situ. Karena bisa menambah deretan kisah penutupan rumah ibadah.

Setiap manusia, tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari rahim orang tua yang mana. Saat kita lahir, kita diperkenalkan oleh orang tua kita mengenai agama. Orang tua kita juga demikian, dapat pelajaran agama dari kakek nenek kita. Lalu, kenapa marah jika ada yang dilahirkan di keluarga Ahmadiyah lalu tidak boleh beribadah? Kenapa marah jika ada yang dilahirkan di keluarga Kristen, lalu tidak boleh beribadah?

Oh ya.. karena tidak mengikuti Peraturan Bersama Menteri ya.. Peraturan ini, sama saja, dibuat belum lama ini. Lalu semua rumah ibadah yang dibangun jauh sebelum peraturan ini dibuat, harus mengubah dokumen-dokumennya menyesuaikan dengan PBM. Dibarengi dengan tidak dikeluarkannya ijin sekalipun dokumennya sudah lengkap. Jadi memang sengaja dikondisikan agar tidak berijin. Sehingga boleh ditutup.

Teman-teman di pemkot Bekasi ini, emang jahat. Berbeda cara mendekatkan diri pada Tuhan saja tidak. Sudah jahat begitu, minta dibilang umat yang rahmat bagi alam dan sesama manusia. Ya sudah, nggak apa. Nyeneng-nyenengin orang sekali-kali juga nggak apa kan?

Jangan lupa, sebentar lagi pemilu. Anda dikondisikan seperti ini, agar apatis dengan pemerintah lalu jadi Golput. Kalau anda golput, maka yang ikut memilih tinggal sisanya. Yaitu kelompok yang menutup masjid anda ini. Oleh karenanya, jangan golput. Nanti mereka menang lagi, gara-gara anda tidak ikut memilih yang berseberangan dengan mereka.

Jadi, saudara-saudaraku jemaah Ahmadiyah. Saran saya, sabar saja. Hadapi saja. Kalau saudara-saudara anda mati di dalam sana karena dikurung di dalam masjid tapi tidak boleh dikasih makan, itu adalah harga yang harus anda bayar untuk menjadi minoritas di Bekasi. Bukankah Allah mendengar doa orang-orang yang dianiaya? Gusti ora sare. Atheis saja disayang Tuhan. Apalagi anda.


- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar