Senin, 23 Februari 2015

Dahsyatnya Matematika Kementrian Pertanian

Bagi saya, masakan Indonesia adalah masakan yang paling nikmat. Kaya akan bumbu-bumbu yang tidak terlalu menyengat seperti masakan India. Sehingga wisata kuliner nusantara menjadi wisata ter-asik.

1363656011233642420

Sate kambing muda ini disajikan ala hotel berbintang. Teksturnya lembut dan rasanya enak.

Namun, irisan bawang merah di piring sangat mengganggu saya. Bagaimana tidak, harga bawang merah sekilo lebih mahal dari harga daging kambing. Padahal biaya produksi bawang merah dari tanam hingga panen tidak setinggi biaya membesarkan kambing. Itung-itungan matematikanya tidak masuk akal.

Mengapa bawang merah di piring ini sungguh mengganggu? Berikut ini adalah foto penjual sate dimana saya membeli sate dalam foto di atas.

13636560572068712191

Apakah si mbah ini terlihat se makmur menteri pertanian yang tidak terimbas harga bawang? Mau Rp.10.000 sekilo ataupun Rp. 100.000 sekilo?

Jika alasan dibatasinya impor bawang adalah untuk menaikkan pendapatan petani, apakah dengan harga bawang sekarang petani malah jadi untung 90.000 per kilo? Atau malah bawang yang sudah panen jadi busuk karena tidak laku? Bukankah teori menambah penghasilan petani ini mengada-ada semata? Kemenpan tidak menyajikan data apapun, hanya jawaban jawaban dadakan.

Ada banyak mbah-mbah pedagang makanan lain yang terdampak kenaikan harga bawang. Tontonan ini sungguh memuakkan. Kementrian Pertanian benar-benar berhasil menunjukkan ketidak kompetennya mengurus agrikultur bangsa.

- Esther Wijayanti -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar