Tidak dapat dipungkiri, untuk mendekatkan diri pada Tuhan, kita butuh uang. Umat Kristen butuh ongkos dan pakaian yang layak untuk pergi ke gereja. Mau menghadap Presiden aja pilih baju yang paling bagus dari lemari pakaian kita. Masak menghadap Tuhan pakai pakaian seadanya? Demikian juga umat Islam, butuh menabung bertahun-tahun agar bisa pergi ke tanah suci. Itulah pengorbanan kita karena kita mencintai Allah kita.
Dimana hartamu berada, disitu hatimu berada.
Kemana anda belanjakan uang anda, di situ hati anda berada. Jika uang anda untuk diri sendiri, disitulah hati anda berada. Jika uang anda untuk anak2, disitulah hati anda berada. Demikian juga dengan mendekatkan diri pada Tuhan, jika uang anda mengalir untuk tujuan ibadah, pada Tuhanlah hati anda berada.
Maka, pantaskah kita menggunakan uang negara untuk ibadah?
Kalau ini namanya merkik. Kikirnya kikir. Mau ibadah, tapi nggak mau pakai uang sendiri. Yang model begini, hatinya ada pada rekening tabungannya. Bukan pada Allahnya. Namun, untuk kepentingan pencitraan, perlu juga diakal-akali, bagaimana caranya agar kelihatan jor-joran beribadah, berdakwah, bikin panti asuhan, membangun rumah ibadah, beramal, tapi rekening selamat.
Untuk itu, ajukan saja anggaran ini itu ke negara. Yang namanya safari dakwah lah - istilah sih barokah, tapi nggak mau rugi. Yang pembangunan rumah ibadah minta negara - pelit, bikin rumah ibadah aja nggak mau keluar duit. Yang perayaan keagamaan minta negara - kalau nggak punya duit doa aja sendiri, nggak usah perayaan-perayaan segala. Padahal, agama sedemikian diagungkannya, sampai-sampai kalau kesenggol sedikit, sakit hatinya bagaikan orang yang paling tersdzolimi sedunia. Tapi kalau urusan keluar uang untuk ibadah, kalau bisa pakai uang orang lain, kenapa tidak?
Besok-besok mau pergi ibadah, bayar ojeknya minta sama negara. Beli sendal jepitnya minta sama negara ya..
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar