Tahun ini, Propinsi Aceh menggelar acara Visit Aceh 2013, untuk menarik wisatawan domestik dan internasional. Dengan topik utama Wisata Bahari dan Religi, Pemerintah Daerah Aceh menyediakan berbagai fasilitas penunjang untuk memudahkan wisatawan mengunjungi objek-objek wisata di Aceh.
Wisata religi di Aceh adalah wisata yang berkembang, salah satunya Seminar Tauhid Tasawuf Internasional di Bumi Tasawuf Aceh Selatan yang diselenggarakan setiap tahun. Orang-orang dari Malaysia juga banyak yang berkunjung untuk mengikuti kebiasaan warga Aceh dalam melakukan ibadah puasa Ramadhan.
Kelihatannya semua baik baik saja. Hingga minggu lalu, 17 Maret 2013, seorang ulama di Plimbang, Bireuen, bernama Tgk Aiyub Syahkubat, 60 tahun, dituduh oleh sebagai pembawa aliran sesat. Hidup Tgk Aiyub berakhir saat diserang massa berjumlah 1500-an. Tgk Ayub tewas dibacok, mayatnya dilemparkan di balai pengajian yang sudah dibakar. Bau sangit daging manusia yang terbakar menyeruak di antara kerumunan massa. Massa puas. Tokoh-tokoh agama yang pernah menyesatkan ajaran Tgk Aiyub di ruang publik, tidak berkomentar.
Padahal, Ramadhan tahun lalu, seorang pria berusia 70 tahun, dan istrinya yang berusia 73 tahun, juga tewas dibantai massa dengan tuduhan dukun. Jadi, peristiwa membantai orang yang dianggap sesat, bukanlah hal yang baru pertama kali terjadi di Aceh.
Massa meyakini sedang membela Tuhan, menyerang secara membabi buta dan membantai yang dianggap sesat tanpa dapat dikendalikan oleh aparat. Menurut polisi, mereka seperti orang kerasukan. Entah kerasukan Tuhan atau kerasukan setan.
Siapa yang ingin datang ke Aceh untuk menikmati wisata religi membacok manusia dianggap sesat atas nama Tuhan? Siapa yang ingin datang ke Aceh untuk menikmati wisata religi semerbak daging manusia bakar yang dianggap sesat?
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar