International Women’s Day (IWD), dirayakan setiap tanggal 8 Maret. Bukan hari spesial untuk memanjakan wanita, agar mendapat bunga dan hadiah. Bukan pula hari spesial untuk menggelar trend busana dan tas terbaru, maupun discount spa.
International Women’s Day adalah hari dimana wanita memperingati dan mengusung perjuangan hak-haknya untuk dapat hidup layak, aman, bahagia dan sejahtera. Setiap tahunnya, International Women’s Day mengusung tema yang berbeda, seperti: penghapusan diskriminasi gender, wanita dan HIV/AIDS, wanita sebagai pengambil keputusan, persamaan hak dan kesempatan, persamaan akses terhadap pendidikan, training, science dan teknologi, penghapusan kemiskinan dan kelaparan.
International Women’s Day pertama dideklarasikan pada tahun 1906 di Amerika. Tahun 1910, International Women’s Conference diselenggarakan untuk menyoroti persamaan hak-hak perempuan, termasuk hak pilih dalam pemilihan umum. Tahun 1911, International Women’s Conference menuntut hak pilih, hak bekerja pada layanan publik, dan penghapusan diskriminasi gender. Tahun ini, tema yang diusung dalam International Women’s Day adalah: saatnya bertindak mengakhiri kekerasan terhadap perempuan.
Berbicara mengenai topik-topik yang diangkat dalam International Women’s Day,Aceh dapat dijadikan acuan bagi dunia dalam hal persamaan gender. Sejarah yang dimiliki oleh Aceh membuktikan bahwa masyarakat Aceh menghargai persamaan gender. Wanita Aceh tangguh dalam mendedikasikan dirinya di berbagai bidang, baik sebagai pemimpin di tingkat paling rendah hingga hingga pemimpin tertinggi di masyarakat.
Wanita Aceh ada yang menjadi Sultanah (wanita kepala pemerintahan Kerajaan Aceh), Laksamana (pemimpin angkatan perang), Uleebalang (kepala kenegerian) dan tidak sedikit yang berperan sebagai pemimpin perlawanan terhadap penjajah.
H.C Zentgraff, penulis dan tentara Hindia Belanda, menyebut wanita Aceh sebagai “de leidster van het verzet” (pemimpin perlawanan) dan grandes dames (wanita-wanita besar). Keberanian dan kesatriaan wanita Aceh melebihi segala wanita yang lain, lebih-lebih dalam mempertahankan cita-cita kebangsaan dan agamanya. Baik di belakang layar, maupun secara terang-terangan menjadi pemimpin perlawanan.
Wanita Aceh, rela menerima hidup dalam kancah peperangan, di balik sifatnya yang lemah lembut, kulit halus, tangan yang lembut, kelewang dan rencong dapat menjadi senjata yang berbahaya di tangan wanita Aceh.
Zentgraaf menyatakan, kelebihan yang dipunyai oleh wanita Aceh sebagai berikut:
“Dari pengalaman yang dimiliki oleh panglima-panglima perang Belanda yang telah melakukan peperangan di segala penjuru dan pojok Kepulauan Indonesia, bahwatidak ada bangsa yang lebih pemberani perang serta fanatik, dibandingkan dengan bangsa Aceh, dan kaum wanita Aceh yang melebihi kaum wanita bangsa lainnya, dalam keberanian dan tidak gentar mati. Bahkan, mereka pun melampaui kaum laki-laki Aceh yang sudah dikenal bukanlah laki-laki lemah dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agama mereka”.
Sosok yang paling sesuai dengan gambaran H.C Zentgraff adalah Cut Nyak Dhien. Wanita yang mempunya peran penting dalam perjuangan dan perlawanan rakyat Aceh dalam menentang kolonialisme Belanda. Bersama suaminya, Teuku Umar, membuat Belanda kewalahan, apalagi setelah Belanda kehilangan pasukan, 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Anda bayangkan nilai uang 18.000 dollar di tahun 1896.
Perjuangan Cut Nyak Dhien membuat dia menjadi salah satu wanita yang paling diperhitungkan dan dihormati dunia. Saat ini, dunia menempatkan namanya dalam daftar Woman Warrior.
Tema yang diusung International Women’s Day 2013: Saatnya bertindak mengakhiri kekerasan terhadap perempuan.
Hentikan kekerasan terhadap perempuan. Baik fisik maupun psikis. Hentikan berbagai intimidasi terhadap dan mengenai perempuan. Mengintimidasi masyarakat dengan pemikiran, bahwa perempuan tidak boleh jadi pemimpin. Kalau dipimpin perempuan, maka anda bisa masuk neraka, atau Tuhan akan mengazab. Mengkriminalkan cara perempuan berpakaian. Mengkriminalkan cara perempuan duduk. Mengkriminalkan dengan siapa perempuan bepergian.
Termasuk dengan sengaja tidak memperkenalkan Cut Nyak Dhien sebagaimana adanya beliau di sekolah-sekolah. Atau memang sengaja ditutup-tutupi, bahwa dunia mengakui kehebatan wanita Aceh serta persamaan gender dalam masyarakat Aceh. Sengaja ditutup-tutupi, bahwa Cut Nyak Dhien adalah salah satu wanita paling hebat dalam sejarah dunia. Woman Warrior.
Bagaimana kabar anda, wanita peserta pilkada?
Bagaimana kabar anda, wanita Aceh?
.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar