Penunjuk arah ini menarik perhatian saya. Sebuah papan yang menunjukkan arah mushola, padahal ini di dalam kompleks sebuah Klenteng di Semarang. Sepertinya tidak ada yang mempersoalkan adanya tempat ibadah umat Islam di dalam kompleks ini. Baik warga sekitar, pengunjung klenteng, maupun orang-orang lain di dunia maya. Adanya mushola di sini menunjukkan, bahwa pada dasarnya, bagi masyarakat kita, perbedaan agama bukanlah hal aneh sehingga penting untuk pentung-pentungan, gusur-gusuran, sweeping-sweepingan, polisi mempolisikan. Karena ibadah adalah ranah privat. Setiap orang bisa beribadah di tempat ibadahnya sendiri, atau beribadah di dalam kompleks tempat ibadah lain. Tuhan tidak dibatasi oleh bangunan.
Hari ini, umat Kristen memperingati hari Jumat Agung.
Mengikuti kehebohan kerabat mempersiapkan acara Jumat Agung di gereja, dimana akan disuguhkan sebuah drama singkat penyaliban Yesus. Pada mulanya saya turut cemas, karena 1 hari sebelum hari H, kostum belum terkumpul. Namun, hari ini, semua berjalan baik. Karena ada pinjaman kostum dari pak Haji yang tinggal di belakang gereja. Baju muslim seperti yang biasa dipakai anggota FPI itu dipinjamkan. Jadilah bajunya Yesus. Ibadah Jumat Agung sukses.
Gereja ini, adalah sebuah gereja kecil, yang jemaatnya dari kelas ekonomi menengah bawah. Awal tahun 90an membeli sebuah fasilitas umum yang tidak terpakai di dalam sebuah komplek menengah atas. Bekas Taman Kanak-Kanak yang sudah bangkrut. Namun, tahun 2006, ada Peraturan Bersama Menteri, sehingga gereja mengajukan permohonan perubahan IMB, dari IMB Taman Kanak-Kanak, jadi IMB gereja. Mendapatkan tandatangan warga sekitar adalah hal yang termudah, karena gereja ini sudah lama berada di situ. Yang menjadi faktor penyulit, justru pihak yang berwenang, hingga sekarang IMB belum turun.
Dari kedua situasi di atas, kita bisa menarik benang merahnya. Bahwa toleransi adalah perilaku asli masyarakat Indonesia. Faktor-faktor yang membuat masyarakat tidak toleransi, adalah faktor eksternal yang diinjeksikan semata. Tidak jarang, justru pemerintah sendiri yang menciptakan jarak, sehingga timbul persepsi-persepsi yang menimbulkan saling curiga.
Persepsi-persepsi negatif yang menimbulkan saling curiga ini, dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk melakukan pembohongan-pembohongan demi penggalangan massa. Contohnya, banjir Jakarta adalah azab Tuhan akibat Jokowi-Ahok membeli kemaksiatan, sebuah statemen kelihatannya agamawi sekali, tapi bertujuan politis. Namun, cukup ampuh untuk membangkitkan kebencian massa (yang bodoh).
Masih mau percaya pembohongan bahwa umat beragama lain adalah pembenci anda?
Selamat Hari Jumat Agung bagi yang merayakannya.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar