Bagus (bukan nama sebenarnya), berusia 13 tahun, kelas VIII di sebuah sekolah swasta di bilangan Jelambar Jakarta Barat. Setiap hari Bagus berjalan kaki pergi dan pulang sekolah, karena sekolahnya tidak terlalu jauh dari rumah. Hari Rabu, Bagus pulang jam 15.30, karena ada extra kulikuler futsal di sekolah.
Dalam perjalanan menuju pulang, di depan pintu kampus Trisakti, di Jl. S.Parman, Bagus dihampiri oleh seorang pria. Dia menghentikan Bagus, dan mengaku sebagai polisi yang sedang menyamar. “Jaket yang kamu pakai sama dengan anak yang tadi siang tawuran di sini. Ayo ikut saya ke pos polisi untuk dimintai keterangannya.” Kata pria tersebut. Bagus memang biasa mengenakan jaket berwarna hitam berlogo kesebelasan kesayangannya tiap ke sekolah. “Saya membawa pistol” lanjut pria tersebut.
Tentu saja Bagus takut. “Aku telpon mamaku dulu ya, soalnya aku ditungguin mamaku, nanti aku mau les” kata Bagus. “Tidak usah, cuma sebentar. Ayo ikut saya” kata pria tersebut. Tentu saja Bagus menurut dengan ketakutan. Karena dikira akan ditangkap polisi yang mengaku bawa pistol.
Bagus diajak berjalan kaki menyusuri trotoar depan kampus Trisakti menuju Jl. Kyai Tapa. Menyeberang jembatan penyeberangan hingga tiba Terminal Grogol. Berjalan menyusuri trotoar di Jl. Kyai Tapa, membelok ke kiri di Jl. Dr Muwardi 2, sampai di Pasar Grogol. Membelok menuju belakang pasar, masuk gang-gang sempit hingga tiba di tepi Kanal Banjir Barat. Lalu mereka berhenti di situ. Pria tadi meminta HP Bagus. “Mana saya lihat hape nya, saya perlu tahu, siapa-siapa teman-teman yang kamu telepon” Bagus memberikan handphonenya. Bagus memang dibekali handphone oleh ibunya, bukan handphone mahal, asal cukup untuk berkomunikasi.
Setelah Bagus menyerahkan handphonenya, pria tadi pergi meninggalkan Bagus yang berdiri saja di situ. Pria itu kembali masuk ke gang yang sebelumnya mereka lewati, namun muncul lagi di gang lainnya. Kemudian dia berjalan melalui jembatan penyeberangan di samping rel kereta, menyeberangi Kanal Banjir Barat. Dan turun memasuki kawasan Kali Anyar.
Bagus berjalan kaki menyusuri sungai hingga tiba di Jl. Kyai Tapa dekat Roxy Mas, lalu berjalan pulang. Bagus sedemikian bingung, takut, lelah berjalan kaki sejauh itu, hingga tidak sanggup berpikir untuk naik kendaraan umum apapun menuju rumah.
Menurut keterangan Bagus, pria tersebut juga mengatakan, bahwa saat ini polisi sedang mengawasi peredaran uang palsu. Dia menanyakan, apakah Bagus membawa uang 250 ribu, untuk dilihat apakah uangnya palsu atau tidak. Bagus mengatakan, tidak pernah bawa uang sebanyak itu. Lalu pria itu menanyakan, bagaimana kalau 100 ribu atau 50 ribu. Bagus menjawab dengan jawaban yang sama. Tidak pernah bawa uang sebanyak itu.
Bagus beruntung, hanya handphone yang hilang. Pria itu tidak menyentuhnya sama sekali. Artinya, tidak terjadi pelecehan seksual terhadap Bagus.
Kita sebagai orang tua, harus meningkatkan kewaspadaan. Banyak orang jahat di luar sana yang mengancam keselamatan anak-anak kita.
- Esther Wijayanti -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar